Tampilkan postingan dengan label kemenkop dan UKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemenkop dan UKM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Oktober 2017

Tak Surutkan Berwirausaha Walaupun memiliki Keterbatasan Fisik

Keterbatasan fisik tak menyurutkan semangat para penyandang disabilitas untuk berwirausaha. Saat mengikuti acara “Pelatihan Kewirausahaan Bagi Penyandang Disabilitas” di Megamendung, Kabupaten Bogor, (26/07), para penyandang disabilitas tampak bersemangat.


Tanya jawab antara peserta dan mentor berlangsung cukup lama. Banyaknya peserta yang bertanya menandakan bahwa mereka betul-betul ingin tahu dan menerapkan ilmu hasil pelatihan tersebut dalam usahanya. Pelatihan diikuti oleh 40 penyadang disabiltas. Mereka berasal dari Bandung, Bogor, Karawang, Indramayu, Purwakarta, dan Banjar (Jawa Barat). Mereka adalah tunarungu, tunadaksa (polio, fisik), tunagrahita (keterbelakangan mental), dan tunanetra.


Kali ini, pelatihan yang diberikan di antaranya tentang perkoperasian, manajemen usaha, laporan keuangan, kemasan, pengurusan perizinan, pemasaran, dan sebagainya. Mayoritas peserta sendiri sudah memiliki unit usaha. Dengan pelatihan ini diharapkan mereka akan naik kelas.


Agus Ruyadi, misalnya, penyandang disabilitas (folio) asal Bogor mengatakan bahwa dirinya telah menekuni usaha budi daya dan pengolahan obat herbal dari buah dan daun Tin sejak Februari 2017 dengan merek Teteh Tin. Khasiat dan kandungan buah Tin yang kaya dengan mineral dan vitamin berpotensial untuk menjaga tubuh agar tetap sehat dan bugar. Buah dan daun tin juga mampu menyembuhkan berbagai penyakit seperti hipertensi, jantung koroner, diabetes, dan sebagainya.


“Memang, di Indonesia belum banyak masyarakat yang mengkonsumsinya. Tapi, saya yakin ke depan ini merupakan bisnis yang potensial. Pasalnya, California Fig-s Advisory sudah melansir kandungan nutrisi buah Tin ke seluruh dunia,” kata Agus yang juga berprofesi sebagai ustad ini.


Oleh karena itu, Agus berharap, pemerintah bisa memfasilitasi usahanya dalam pengurusan perizinan, hak cipta, merek, juga label halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) bagi produknya. “Di pelatihan ini juga saya ingin mendapatkan pengetahuan mengenai manajemen usaha yang sesungguhnya. Saya juga ingin memahami dan menguasai ilmu pemasaran secara online, sehingga, saya bisa memperluas pangsa pasar bagi produk yang saya buat,” kata Agus.


Selesai pelatihan hari pertama, Panitia mengajak para peserta untuk foto bersama di depan panggung. Maka kegembiraan pun tampak dari raut muka mereka. Bahkan saking senangnya, salah seorang peserta yang kehilangan salah satu kakinya berjalan dengan melompat-lompat. Entah disangaja atau lupa, kruk (alat bantu jalan)nya ketinggalan di sebelah tempat duduknya. Rekan-rekan yang telah berada di depan berteriak “nyantai aja brooo” diiringi dengan gelak tawa.


Tidak lama kemudian disusul seorang peserta yang kehilangan dua kakinya. Peserta ini berjalan dengan ‘ngesot’ dan sandal di telapak tangannya, dia berusaha ikut ke depan untuk berfoto. Saat dia berjalan, rekan-rekannya berteriak, “Hee, kura-kura ninja, sendalnya dipakai di kaki, bukan di tangan”. Mendengar candaan rekannya, dia pun malah ikut tertawa sambil menjulurkan lidahnya. Menurut Agus, candaan seperti itu sudah terbiasa di internal para penyadang disabilitas. “Tidak ada marah, apalagi sakit hati. Justru dengan candaan ini, kami semakin akrab.”


Sumber: Cooperative - E-Magazine Edisi Agustus Kemenkop dan UKM
Read more ...

Selasa, 26 September 2017

Rancang Dua Skema Bantuan Permodalan Wirausaha, Kewirausahaan Tetap Menjadi Program Prioritas Kemenkop dan UKM

Rancang Dua Skema Bantuan Permodalan Wirausaha, Kewirausahaan Tetap Menjadi Program Prioritas Kemenkop dan UKM.
"Kewirausahaan tetap menjadi program prioritas Kemenkop dan UKM pada 2018. Karena itu, anggaran yang dialokasikan juga lebih besar agar penerimanya bisa lebih ditingkatkan jumlahnya,"

Kementerian Koperasi dan UKM merancang dua skema program bantuan perkuatan modal bagi wirausaha pemula untuk tahun anggaran 2018.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengatakan skema itu disusun untuk memperluas peserta penerima bantuan kewirausahaan sekaligus agar lebih merata di seluruh Tanah Air.

"Kewirausahaan tetap menjadi program prioritas Kemenkop dan UKM pada 2018. Karena itu, anggaran yang dialokasikan juga lebih besar agar penerimanya bisa lebih ditingkatkan jumlahnya," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (15/9/2017).

Agus menjelaskan ada dua skema pendanaan yang akan diberlakukan pada Tahun Anggaran 2018 mendatang, yakni pertama skema Bantuan Pemerintah kepada Wirausaha Pemula (WP) dengan bantuan modal maksimal sebesar Rp13 juta.

Skema kedua adalah bantuan pinjaman yang harus dikembalikan atau bergulir melalui LPDB-KUMKM sebesar Rp25 juta hingga Rp50 juta.

Dalam skema yang pertama, calon WP akan lebih dulu mendapatkan pelatihan. Kemudian peserta pelatihan akan diwajibkan membuat proposal atau rencana bisnis untuk dinilai kelayakannya.

Proposal yang lolos seleksi akan mendapatkan bantuan modal usaha sesuai yang diajukan atau disesuaikan dengan tingkat kelayakan.

"Wirausaha pemula kami targetkan mencapai 1.700 hingga 1.800 peserta, yang sebelumnya direncanakan hanya 1.200 peserta," ucap Agus.

Sasaran penerimanya adalah para mahasiswa atau calon wirausaha dari berbagai daerah termasuk daerah tertinggal dan masyarakat berpendapatan rendah.

Oleh karena itu, Agus mengharapkan para mahasiswa bisa memanfaatkan skema ini untuk menyiapkan diri menjadi calon wirausaha.

Agus mengatakan, skema bantuan pemerintah untuk wirausaha pemula pada 2018 memang berbeda dengan skema WP 2017 yang menerapkan sistem e-proposal.

Tahun ini yang berlaku setiap calon WP mendaftarkan proposal secara daring dan juga menyaratkan sudah memiliki usaha minimal enam bulan dan memiliki sertifikat pelatihan.

Sedangkan skema bantuan pinjaman kedua menyasar para pengusaha muda, termasuk pegusaha muda dengan bisnis berbasis IT atau startup.

Dana yang dialokasikan untuk skema ini direncanakan sebesar Rp100 miliar dan dikelola melalui manajemen LPDB- KUMKM.

Asisten Deputi Bidang Peningkatan Kualitas SDM Perkoperasian Kemenkop dan UKM Talkah Badrus mengatakan pihaknya akan melakukan sosialisasi skema WP tersebut kepada kelompok sasaran.

"Misalnya, sasarannya adalah mahasiswa, sebanyak 200 mahasiswa dikumpulkan untuk dilatih fokus proposal bisnis. Kemudian, peserta akan diminta membuat proposal untuk dikompetisikan, dan dinilai mana yang layak secara bisnis. Peserta yang lolos akan mendapat bantuan modal WP," jelas Talkah. (sumber: jpp.go.id)
Read more ...